logoblog

Cari

Tutup Iklan

Oi Ta’a Pelepas Dahaga

Oi Ta’a Pelepas Dahaga

KM.Sarangge: Melintasi sepanjang jalan lintas Bima-Sape tepatnya di sebelah timur Terminal Kumbe Kota Bima, kita akan menemukan kedai-kedai Oi Ta’a atau

Kuliner Tradisional

Oi Ta’a Pelepas Dahaga


fani kristianto
Oleh fani kristianto
17 Desember, 2013 16:31:42
Kuliner Tradisional
Komentar: 0
Dibaca: 4375 Kali

KM.Sarangge: Melintasi sepanjang jalan lintas Bima-Sape tepatnya di sebelah timur Terminal Kumbe Kota Bima, kita akan menemukan kedai-kedai Oi Ta’a atau air  lontar yang dijual warga di kelurahan Oimbo kota Bima. Oi Ta’a atau sebagian orang Bima juga menyebtunya dengan Oi Tua ini untuk harga satu botol  dalam botol kemasan yang berisi 500 ml dijual seharga Rp.5000,-. Sedangkan dalam botol yang beisi 1500 ml air lontar dijual dengan harga Rp.10.000. 

Menurut Ramlah (40 thn), lebih dari 30 kepala keluarga di kelurahan ini menggantungkan hidup dari berjualan Oi Ta’a.  Hampir setengah dari mereka yang memiliki kebun-kebun lontar yang lokasinya berada di sekitar kampung Oimbo. Sementara sebagian lainnya mengambil dari pemilik kebun dan menjual di kedai-kedai di pinggir jalan lintas Bima-Sape. Para penjual  membeli air lontar dari pemilik kebun dengan harga Rp.2.500 untuk ukuran botol kecil dan Rp.7.500 untuk botol besar. Kemudian dijual dengan harga Rp.5000  untuk botol ukuran kecil(tanggung) dan Rp. 10.000 untuk botol ukuran besar. Jadi tiap botol air lontar mereka rata-rata mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 2.500.

Ahmad (45 Tahun) Warga Oi Mbo mengemukakan, memperoleh air lontar tentu tidaklah mudah. Hanya orang-orang tertentu dan yang memiliki keahlian memanjat pohon lontar yang dapat mengambilnya. Karena ketinggian pohon-pohon lontar ini bisa mencapai lebih dari 20 meter. Pada umumnya ketinggian pohon lontar berkisar antara 15 sampai 20 meter. Kehati-hatian dan kondisi prima sangat dibutuhkan dalam memanjat pohon lontar, karena sering kali terjadi pemanjat yang jatuh dan menyebabkan patah tulang hingga berujung kematian. “ Untuk memanjat pohon lontar, warga Oimbo biasa menggunakan RANGGE. Rangge adalah semacam tangga yang dibuat dari bambu yang dikenal dengan OO TODO. Bambu ini adalah memang jenis bambu yang biasa digunakan untuk memanjat pohon lontar karena disetiap ujung pangkalnya dapat dipasangkan kayu sebagai tempat pijakan pada saat memanjat “ Urai Ahmad sambil memperlihatkan bambu Rangge kepada Kru Sarangge.

Masih menurut Ahmad, waktu yang tepat untuk mengambil air lontar adalah pada pagi hari dan sore hari. Sementara produksi air lontar yang melimpah di Oimbo ini berlangsung dari bulan April hingga Agustus. Pada musim hujan produksi air lontar dari kebun-kebun warga berkurang. Agar air lontar tahan lama dan bisa disimpan dalam botol selama dua sampai tiga hari, warga merebus sekitar setengah jam. Karena berdasarkan pengalaman warga, air lontar hanya bertahan beberapa jam, setelah itu akan terasa asam. Oleh karena itu, meminum air lontar yang menyegarkan adalah pada saat baru diambil dari pohonnya. Disamping airnya, lontar memiliki banyak manfaat antara lain daunnya dapat digunakan sebagai bahan membuat rokok, bahan Topi dan untuk  membuat payung (Paju longge) dalam upacara-upacara adat Bima. Sementara bijinya sangat gurih.

 

Baca Juga :


Nama Oimbo tercatat dalam legenda tanah Bima.  Nama kampung ini diberikan oleh Raja Indra Zamrut untuk mengenang adiknya Indra Komala yang telah memakjulkan diri di sebuah mata air di ujung selatan kampung ini karena adanya perselisihan di antara keduanya mengenai mata pancing Indra Zamrut yang dihilangkan oleh Indra Komala. Nama Oinbo berasal dari Oi Mbora (Air Yang Hilang) karena di mata air itulah Indra Komala menenggelamkan diri hingga menghilang.

Kebiasaan warga Oi Mbo mengambil dan menjual air lontar sudah berlangsung turun termurun. Perlu sentuhan-sentuhan pemberdayaan untuk penjual air lontar ini agar mereka dapat terus bergelut dengan berjualan air lontar sekaligus mewarisi budaya leleluhurnya. Estetika dan pariwisata, perlu penataan kedai—kedai ini agar teratur dan tertata rapi sehingga menarik minat orang yang melintas untuk sekedar mampir beristirahat sambil menikmati Oi Ta’a Oi Mbo.(*alan) 



 
fani kristianto

fani kristianto

xproject
Born: February 20-1967, Aberdeen Washington, USA
Guitar: Fender-Mustang, Jaguar, Stratocaster, Telecaster
Amplification: MesaBoogie Preamp, Sunn-Beta LeadHead, 4X12 Peavey
Pedals: BOSS DS1-DS2, Tech 21 Sansamp C, Orange

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan