logoblog

Cari

Tutup Iklan

“Saroja” Kaka Rita Tak Tersaingi

“Saroja” Kaka Rita Tak Tersaingi

Begitu geliatnya kelompok warga masyarakat kecil yang terus mengembangkan usaha-usaha mereka dalam pembuatan makanan ringan sejenis kue kering, tidak hilang bahkan

Kuliner Tradisional

“Saroja” Kaka Rita Tak Tersaingi

“Saroja” Kaka Rita Tak Tersaingi

KM Bolo
Oleh KM Bolo
09 Juni, 2014 13:01:13
Kuliner Tradisional
Komentar: 8
Dibaca: 24446 Kali

Begitu geliatnya kelompok warga masyarakat kecil yang terus mengembangkan usaha-usaha mereka dalam pembuatan makanan ringan sejenis kue kering, tidak hilang bahkan menjadi turun-temurun. Pembuatan jenis kue kering tersebut menjadi khas kuliner kampung yang sudah tenar di berbagai desa. Bahkan di luar daerah hingga Mancanegara, salah satu kategori jenis kue kering tersebut pernah dipromosikan oleh pemerintah daerah.

            “Pangaha Saroja” (jajan Seroja) itulah namanya. Kue kering ini boleh dikatakan mudah dalam pembuatannya. Akan tetapi, jika bukan dari tangan-tangan terampil dan ahlinya, maka hasilnya tidak sempurna serta rasanya kurang pas. Sebab, kue kering ini, konon memiliki sejarah dan makna tersendiri.

“Saroja” kerap digunakan untuk penyambutan dalam hajatan pernikahan. Dimana pada masa itu, tanpa ada ‘Pangaha Saroja’, seakan persiapan makanan (jangko) lainnya, belum lengkap. Jika kita pernah merasakan gurihnya serta nikmat dan enak kue kering tersebut—maka seakan mulut kita tak henti-hentinya ingin terus mengunyah.

            Siapa dan dimana sebenarnya tempat yang menjadi turun-temurun pembuatan “Pangaha Saroja” tersebut? Berikut penelusuran KM-Bolo.

Desa Rasabou kecamatan Bolo kabupaten Bima–NTB, merupakan tempat mulanya pembuatan kue kering “Saroja”. Karena pada masa itu dan hingga sekarang, orang luar daerah seperti dari kota Bima dan Dompu, kerap datang memesan kue kering ini untuk kebutuhan acara pernikahan putra-putri mereka.

            Meski saat ini ada beberapa orang di luar desa Rasabou yang bisa membuatnya, tetapi bentuk dan rasa aromanya yang dihasilkan tidak mampu menyaingi dari aslinya. Maka tak heran, melalui lomba kuliner kampung yang pernah diadakan oleh TP PKK kabupaten Bima pada masa kepemimpinan almarhum (H Ferry Zulkarnain), kue kering bernama ‘Saroja’ tersebut dimenangkan oleh tangan-tangan terampil dari TP PKK desa Rasabou, yang kebetulan asal mulanya pembuatan kuliner ini di Rasabou.  

Kaka Rita—itulah sapaan perempuan kelahiran di RT05 desa Rasabou ini. Semenjak di usia remaja, dirinya dilatih oleh ibunya Hj Hadijah agar bisa menguasai tehnik dan cara pembuatan “Saroja”. Beberapa jenis bahan baku sebagai resep pembuatan kue kering, sudah menjadi rahasia keluarga mereka. Namun bagi orang lain, meski mengetahui bahan (resep), tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

“Memang ada yang datang menanyakan resep “Saroja” ini, termasuk cara pembuatan dan pencampurannya,” ujar Kaka Rita saat KM Bolo berkunjung di tempat pembuatan “Saroja”, di kerumahnya.

Kaka Rita mengaku, usaha pembuatan “Saroja” ini tetap berjalan. Apalagi dalam beberapa pekan terakhir ini, pesanan cukup banyak. Selain menerima orderan, kue kering “Saroja” juga diambil oleh beberapa pedagang kue di pasar Sila. Hanya saja, jumlah yang mereka ambil tidaklah banyak. “Karena biasanya, permintaan stock banyak ketika menjelang hajatan-hajatan khusus, seperti acara pernikahan dan sunatan,” katanya.

Baca Juga :


Menurut Kaka Rita, pembuatan “Saroja” ini, boleh terbilang mudah. Tetapi, ketika prakteknya perlu ketelitian dan kehati-hatian. Begitu pun bahan (resep) yang disiapkan—seperti tepung beras, telur, gula pasir, garam, kapur siri dan minyak goreng. “Untuk menghasilkan “Saroja” yang baik, pencampuran bahan harus tepat. Tidak boleh kurang atau lebih. Jika tidak, maka hasilnya jelek,” katanya.

Begitu pula proses pembuatannya. Bahan-bahan tadi dicampur dan diaduk rata dengan air hingga encer, sambil menunggu minyak goreng panas. Setelah itu, ambil plat “Saroja” yang sebelumnya telah dipanaskan dalam minyak goreng—lalu celupkan kedalam bahan—kemudian dicelup kembali kedalam minyak goreng panas hingga matang dan mengembang hingga “Saroja” tadi secara sendirinya pisah dari plat. Setelah itu, kita keluarkan dan siap dihidangkan.

Kaka Rita menceritakan awal mulanya pembuatan dan nama “Pangaha Saroja”. Tentu kita semua tahu khususnya orang Bima, bahwa “Pangaha” bahasa Indonesia adalah jajan. Sedangkan “Saroja” diambil dari nama bunga Seroja. Karena memang bentuknya mirip bunga Seroja. Sehingga pada waktu itu, dibuatlah plat yang mirip bunga Seroja dari bahan kuningan.   

Bunga Seroja ini kerap digunakan untuk kembang bagi kedua calon pengantin. Termasuk ditabur didalam air mandi pada saat kedua calon pengantin melaksanakan upacara mandi “Boho Oi Mbaru”—yaitu upacara membuang masa-masa lajang atau kesialan. “Itulah “Pangaha Saroja” ini kerap dijumpai ketika kita datang (tekarne’e) ke rumah kedua calon pengantin.  

Sampai saat ini, pembuatan kue kering “Saroja” menjadi usaha turun-temurun keluarganya. Meski ada beberapa orang lain yang mengembangkan usaha pembuatan kue kering tersebut, namun bagi pihak yang ingin melaksanakan hajatan keluarga seperti pernikahan dan sunatan—tetap datang untuk memesan “Saroja” di tempat Kaka Rita. Karena memang hasilnya jauh berbeda dari yang dibuat orang lain. Hanya saja, untuk mengembangkan usah kuliner kampung tersebut, Kaka Rita terbentur dengan modal.

Meski telah membentuk kelompok usaha “Saroja”—namun mereka belum pernah mengajukan  proposal permohonan bantuan modal kepada pemerintah. Bahkan modal yang dibutuhkan pembuatan “Saroja” ini, tidak terlalu besar. “Mungkin ditaksirkan Rp5 juta saja,” ucap Kaka Rita.(adi) - 05



 
KM Bolo

KM Bolo

Koordinator: SURYADIN Alamat : Jl. Lintas Sumbawa No.53 Desa Rasabou Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Prov. NTB URL:kmbolo.com email:kmbolo@ymail.com Kontak Person: 085-25332-3535 ANGGOTA: Erik, Buhari, Rahmi

8 KOMENTAR

  1. liliyang mei mei

    liliyang mei mei

    22 Juni, 2014

    kalau di desa majasem kecamatan kendal kabupaten ngawi jawatimur makanan khas yang sama seperti itu di sebut GOYANG memang rasanya gurih dan enak,saudara keluarga kami yg masih mengembangkan kuliner ini.,,,,,,,,dan ada juga LIKAK LIKUK,DAN AMPYANG(RENGGINAN)


  • KM-Doro Keke

    KM-Doro Keke

    21 Juni, 2014

    Bravo buat KM Bolo yg terus mengangkat kuliner-kuliner kampung di wilayahnya. Kami jg ingin belajar bagaimana cara menulis sperti itu. Bang adi, kita akan ke sekeretarianya nanti sore...


  • KM Madapangga

    KM Madapangga

    16 Juni, 2014

    Setiap sy dtng ke tmpt2 acara perkawinan (rumah pengantin), sllu kutemui kue kering Saroja ini. Rasanya memang enak, gurih dn nikmat.


  • KM Nggaronipo

    KM Nggaronipo

    16 Juni, 2014

    Saya juga pernah cicipin Saroja kaka rita ini. saya akui hasil pembuatannya dibanding saroja bikinan org lain.... rasanya enak, empuk dan gurih.


  • KIM Bolo

    KIM Bolo

    11 Juni, 2014

    Begitu gurih dan nikmat rasanya kalo yg pernah mencicipin kue kering "Saroja" ini.... salah satu kuliner terbaiik dii Bima ...


  • KM LENGGE

    KM LENGGE

    10 Juni, 2014

    Kue Saroja salahsatu kuliner tradisonal Bima.....kalau ke Bima wajib makan kue ini baru merasakan kue asli Bima..... Masih banyak Usaha Ekonomi kerakyatan lainnya di Bima terus kita gali dan promosikan.......


  • KM Kaula

    KM Kaula

    09 Juni, 2014

    kalau di Lombok nama nya Jaje Bahri, bahri artinya laut kalau di bahasa arab jadi mungkin karena waktu proses penggorengan minyaknya mendidiH bagai ombak di laut makanya dinamakan BAHRI.........


  • KM. Lingsar

    KM. Lingsar

    09 Juni, 2014

    mirip kerupuk udang yang dijual di warung-warung pulau lombok, bentuknya mengundang selera kepingin mencicipi.


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan