logoblog

Cari

LUPIS, Jajan Khas Lombok Yang Mulai Tertinggal

LUPIS, Jajan Khas Lombok Yang Mulai Tertinggal

Lombok meupakan destinasi wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing setelah pulau bali. Keindahan pulau yang disebut pulau seribu masjid

Kuliner Tradisional

Firman PurnaWirawan
Oleh Firman PurnaWirawan
01 Februari, 2017 13:07:03
Kuliner Tradisional
Komentar: 0
Dibaca: 86622 Kali

Lombok meupakan destinasi wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing setelah pulau bali. Keindahan pulau yang disebut pulau seribu masjid ini memang memikat siapa saja. Pantai yang masih bersih, air laut yang jernih, dan budaya yang unik menjadi daya tarik yang dimiliki oleh lombok untuk menarik minat wisatawan. Lebih lagi anda bisa menjumpai beberapa tempat romantis untuk dijadikan tempat berpacar di lombok.

Namun, pesona lombok bukan hanya terdapat pada wisatanya saja, akan tetapi memiliki jajan khas lombok yang memiliki cita rasa yang unik dan tidak bisa ditemukan ditempat lain. Dan kali ini saya akan berbicara tentang jajan khas lombok yang mulai tertinggal yaitu jajan Lupis.

Jajan Lupis yang terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan direbus hingga matang. Dalam penyajiannya ketan tersebut dipotong-potong dan dicampur dengan entan. Entan merupakan campuran dari kelapa yang sudah diparut dengan gula merah yang sudah di masak. Lupis ini dapat dibeli di pasar tradisional di pulau lombok.

Jajan Lupis ini paling enak dihidangkan pada saat lagi musim hujan, apalagi di temani dengan secangkir kopi hangat rasanya bertambah lezat. Bagaimana tidak jika jajan ini dirindukan oleh masyarakat lombok.

Salah satu desa yang sering membuat jajan ini adalah Desa Batunyala, apalagi sekarang yang tak henti-hentinya di guyur hujan. Salah seorang warga Batunyala yang bernama Inak Zahrah yang senang membuatkan suaminya jajan ini. Cara membuatnya aja tidak sulit, hanya beras ketan yang dibungkus daun pisang kemudian dimasak hingga bener-benar matang. Kemudian ditambahkan dengan kelapa yang sudah diparut yang dicampur gula merah yang sudah dimasak, memang rasanya yang begitu empung ketika masuk ke dalam mulut.

 

Baca Juga :


Kenapa tidak jajan ini dikembangkan kesuatu tempat supaya diingat oleh para pendahulu yang sering membuatnya. Kenapa tidak buat dan dijual ditempat moderen agar lebih baik lagi, dan mengembangkan jajan-jajan yang lain seperti Nagasari, Tarek, Renggi, dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu saya ingin menyelesaikan tulisan ini agar diketahui oleh berbagai masyarakat supaya bukan jajan modern yang dihidangkan akan tetapi jajan khas lombok juga. Semoga ini bermanfaat bagi kita semua, termasuk masyarakat lombok.



 
Firman PurnaWirawan

Firman PurnaWirawan

Nama saya Firman Purnawirawan. Saya kuliah di IAIN MATARAM dan masuk organisasi para sahabat yaitu PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Saya anak ke dua dari tiga bersaudara.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan