logoblog

Cari

Jajanan Tradisional Makin Eksis Pasca 7.0 Sr

Jajanan Tradisional Makin Eksis Pasca 7.0 Sr

KM. MASBAGIK. Setiap daerah di Nusantara ini pasti memiliki jajanan tradisional masing-masing. Mulai dari jenis makanan ringan yang mudah proses pembuatannya

Kuliner Tradisional

KM Masbagik
Oleh KM Masbagik
12 Desember, 2018 19:59:46
Kuliner Tradisional
Komentar: 0
Dibaca: 1615 Kali

KM. MASBAGIK. Setiap daerah di Nusantara ini pasti memiliki jajanan tradisional masing-masing. Mulai dari jenis makanan ringan yang mudah proses pembuatannya hingga makanan dengan tingkat biaya dan tenaga yang tinggi juga menjadi karakteristik dari masing-masing tempat. Penulis kini mencoba mengangkat tema jajanan tradisional karena mengingat sudah sangat jarang sekali ditemukan ada yang masih membuat dan menjajakan hal tersebut kepada khalayak ramai. Apalagi di daerah Pulau Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Timur yang telah terkena dampak musibah gempa bumi. Namun, penulis menemukan sosok pengusaha sukses yang tetap bertahan dengan segala kerja kerasnya untuk tetap terus melestarikan makanan ini hingga dapat dinikmati oleh khalayak ramai.

Pengusaha sukses ini bernama Asrimin, beliau adalah seorang istri dari Kepala Dusun dari salah satu Dusun di Desa Lendang Nangka. Pada tulisan selanjutnya penulis menyebutnya dengan panggilan Kak Asri. Ditengah kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga ia secara turun temurun tetap membuat berbagai jajanan tradisonal diantaranya Kue Baulu, Makanan Pangan, Makanan Wajik, Kue Kering Semprit, Kue Nastar, Kue Lekong, Poteng Jaja Tujak, Manisan Kelapa Muda, Burasak,  Jajan Abuk dan banyak lagi yang lainnya. Diantara semua yang ia buat sebagian besar merupakan jajan tradisional yang sangat jarang ditemukan. Dan biasanya dapat ditemukan pada saat atau moment tertentu saja contohnya makanan poteng jaja tujak bisa ditemukan ketika menjelang hari raya Idul Fitri saja.

Kak Asri membuka usahanya dengan nama “Dende Puri”  yang artinya Seorang bangsawan perempuan yang berasal dari puri. Nama ‘Dende Puri” ini terinspirasi dari keadaan tentang pengolahan dan penyajian jajan tradisional yang bernama “Burasak” yang hanya dapat dinikmati untuk kalangan para bangsawan saja pada zaman dahulu. Makan makanan tersebut hanya dibuat oleh para bangsawan itu sendiri dan hanya disajikan untuk tamu-tamu agung pada zaman dahulu.  Makanan ini bahkan menjadi makanan tradisional pusaka leluhur terutama di kalangan bangsawan khususnya di Desa Lendang Nangka pedaleman. Jadi bisa dibilang tidak sembarangan orang yang bisa mencicipi kuliner ini. Inilah yang mendasari Kak Asri untuk membuat dan memasarkan produk tersebut kepada khalayak ramai.

Pada awalnya wanita yang berusia 32 tahun ini merintis usahanya dengan modal awal lima belas juta rupiah. Hingga kini setiap bulannya mendapatkan keuntungan kurang lebih satu seengah juta rupiah. Pemasarannya telah beredar di sekitaran Lombok Timur dan untuk makanan “Burasak” pemasarannya telah keluar hingga keluar kota. Dan bagi yang ingin memesan dan merasakan makanan ini harus memesan terlebih dahulu  karena mengingat proses pembuatannya yang cukup memakan waktu lama.

Pembuatan makanan ini telah berlangsung sejak Kakik, Ninik kemudian dilanjutkan oleh Ibundanya (Meme) dan terakhir sekarang oleh beliau. Ia kini merupakan generasi keempat dalam pembuatan “Burasak” di Pedaleman Desa Lendang Nangka. Ini jarang bisa dilakukan oleh orang lain karena proses pembuatan makanan ini yang sangat memakan waktu mulai dari pengemasan daun pisangnya, pembersihan ketannya dan kemudian direbus. Proses perebusannya ini bisa hingga setengah hari lamannya.

Berikut daftar nama kue beserta harga masing-masing kue yang dibuat oleh Kak Asri yaitu Kue Boulu dengan harga 42.000/kg, jajan pangan satu loyang dengan harga 50.000, jajan wajik dengan harga 50.000, kue kering semprit dengan harga 50.000/kg, kue nastar dengan harga 50.000/kg, kue lekong dengan harga 50.000/kg, kue poteng jaja tujak satu paket dengan harga 50.000, jajan manisan kenyamen dengan harga 42.000/kg, jajan abuk dengan harga 12.500/satu cetakan dan jajan burasak dengan harga 10.000/bungkul kecuali yang isinya daging harganya 12.500/bungkul

 

Baca Juga :


Kecintaan dan dedikasinya yang tinggi dalam mengembangkan makanan tradisional ini membuat beliau sering dipanggil untuk menjadi pembicara dalam event bertema kuliner tradional. Contohnya pada tanggal 29 September 2018 hingga 1 Oktober 2018 beliau menjadi pembicara dalam event “Begawe Tradisional” yang diadakan oleh Desperindag Propinsi Nusa Tenggara Barat. Dan disana ia memaparkan tentang cara pembuatan makanan “Burasak”.

Semoga dengan adanya artikel ini membuka khazanah pengetahuan kita tentang makanan tradisional khususnya di Pulau Lombok. Sudah saatnya makanan tradisional di gaungkan kembali karena sejatinya semua makanan yang telah diwarisakan oleh para leluhur tidak kalah dengan makanan modern saat ini. Selain itu, banyak makna dan pelajaran yang dapat diambil dari semua proses dan pembuatannya. Salam toes dari kampung.

By_Andre D’Jails



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan