Jaje Pelor Masih Eksis

KM. Serambi_Brangrea; Diantara banyak kuliner tradisional Lombok ternyata ada satu jenis cemilan yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah tidak pernah menjumpainya lagi, akan tetapi kehadirannya ternyata masih ada. Jaje Pelor yang artinya kue peluru ini adalah salah satu jenis panganan berbahan baku utama ubi kayu dan gula merah.

Disebut Jaje Pelor karena bentuknya bulat menyerupai peluru dan sudah ada sejak jaman dulu. H. Husain (60th) warga Seganteng Kecamatan Cakranegara mengutarakan bahwa jaje pelor ini sudah ada sejak kami masih kecil dulu. Saat itu jaje pelor termasuk makanan yang mewah karena memang waktu itu adalah masa-masa sulit. Masih terbatasnya kreasi kuliner menjadikan jaje pelor menjadi kuliner favorite saat itu imbuhnya.

Jaje pelor dibuat dengan bahan dasar ubi kayu yang banyak dihasilkan oleh petani, ubi yang sudah dikupas kemudian dikeringkan dengan menjemurnya di bawah sinar matahari. Setelah kadar air berkurang ubi akan direbus kemudian ditumbuk hingga hancur. Setelah itu barulah bahan akan dibentuk bulat-bulat seukuran telur puyuh yang kemudian akan digoreng sebentar. Setelah ditiriskan jaje pelor akan mendapat sentuhan terakhir dengan menambahkan gula merah yang telah dilarutkan dan dibiarkan mengering.

Lingsar dan Sigerongan Lombok Barat adalah satu desa yang masih eksis membuat kuliner ini. Biasanya pedagang akan menjajakan dagangannya hingga ke Cakranegara dengan berjalan menyusuri jalan-jalan dan gang sempit. Jaje pelor saat ini dihargai Rp.200,- perbiji, harga yang cukup terjangkau bagi kebanyakan orang khususnya anak-anak.

Nayla (7th) dan kawan-kawan telah menjadi pelanggan setia penjual jaje pelor, ia biasanya membeli Rp.2.000,- untuk mendapatkan 10 buah jaje pelor. Rasa yang manis, agak sedikit keras dan mengenyangkan membuat saya suka makan jaje pelor ujar Nayla.

Bagi yang ingin mencicipi kuliner yang satu ini bisa datang ke Seganteng pukul 9 pagi karena biasanya si penjual akan berjalan menjajakan dagangannya pada waktu itu. Selain itu jika kita ingin mencari di pasar belum tentu juga masih ada yang menjualnya. (c_benk VH) -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru