"Lempok" Makanan Zaman Dulu yang Lezat


Berbicara tentang kuliner khas di Pulau Lombok memang tidak akan habis-habisnya. Wajar kemudian nusantara kita memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri terkait dengan makanan kuliner. Jika beberapa saat lalu penulis berbagi cerita tentang jajanan opak-opak kali ini penulis ingin berbagi cerita dan pengetahuan jajanan zaman dahulu orang tua kita, lempok namanya.

Lempok adalah makanan ringan orang tua zaman dahulu penenamani secangkir kopi untuk hidangan tamu yang ingin bersilaturrahmi. Lempok adalah makanan sejenis kacang-kacangan. Lempok ini adalah buah dari rumput-rumputan yang biasanya di tanam di embung atau danau.

Cara penyajiannya cukup sederahana, ketika buah lempok di petik kemudian di  bersihkan kotoran yang menempel seperti tanah dan sebagainya lalu kemudia di cuci dan dan ditiriskan  dengan air bersih. Setelah itu panaskan air menggunakan dandang atau panci dengan menggunakan tungku dengan kayu sebagai kayu bakar. Untuk mendapatkan aroma dan rasa yang maksimal panci dapat di tukar menggunakan kemeq yang terbuat dari tanah dan di tutup dengan daun pisang.

Setelah air setengah mendidih masukkan buah lempok tadi yang sudah dibersihkan kedalam panci atau kemeq kemudian gunakan api sedang untuk memasaknya. Setelah beberapa menit memasak sekitar 30-50 menit angkat lempok kemudian tiriskan. Makan lempok langsung dengan kulitnya serasa nikmat. Apalagi dihidangkan dengan singkong rebus ditambah dengan secangkir kopi membuat rasa dan aroma lempok menjadi sempurna.

Lempok hari ini sudah jarang kita ketemukan baik di desa maupun di perkotaan. Di kota Mataram makanan ini dapat kita jumpai di pedagang-pedagang kacang-kacangan yang setiap hari menjajakkan dagangannya sambil keliling. Biasanya kalau di kota Mataram kita dapat menjumpainya di Pantai Loang Baloq dan sekitarnya.

Cara penyajiannya cukup sederahana, ketika buah lempok di petik kemudian di  bersihkan kotoran yang menempel seperti tanah dan sebagainya lalu kemudia di cuci dan dan ditiriskan  dengan air bersih. Setelah itu panaskan air menggunakan dandang atau panci dengan menggunakan tungku dengan kayu sebagai kayu bakar. Untuk mendapatkan aroma dan rasa yang maksimal panci dapat di tukar menggunakan kemeq yang terbuat dari tanah dan di tutup dengan daun pisang.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru